Pendidikan

Okezone.com – Bukan Sekedar Mahasiswa

okezone.com – Bukan Sekedar Mahasiswa

APA yang tergambar dalam benak kita saat mendengar nama “Mahasiswa”? Hebat, intelektual, pintar, cerdas, dan lain-lain, mungkin tak hanya satu jawaban yang terucap. Mahasiswa merupakan status yang disandang oleh seseorang ketika ia menjalani pendidikan formal di suatu perguruan tinggi (PT). Seseorang dapat dinamakan mahasiswa apabila ia tercatat secara administratif  dalam perguruan tinggi dengan mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) dan berbagai aktivitas kampus, baik formal ataupun non formal.

Predikat mahasiswa menjadi suatu “kebanggan” tersendiri bagi seseorang, tidak semua orang dapat menjadi mahasiswa tanpa adanya sebuah proses yang panjang. Proses tersebut adalah menyelesaikan masa pendidikan dari SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA yang secara hitung-hitungan bisa diselesaikan dalam waktu normal kurang lebih sembilan tahun.

Mahasiswa menduduki posisi yang strategis dan segnifikan dalam strata sosial. Pemikiran dan ide cemerlang mahasiswa mampu mengubah paradigma yang berkembang dalam suatu kelompok dan menjadikannya terarah sesuai kepentingan bersama. Sikap kritis dan gerakan mahasiswa sering membuat sebuah perubahan besar dan membuat para pemimpin yang tidak berkompeten menjadi gerah dan cemas.

Dalam konteks Indonesia, mari kita tengok aktivitas mahasiswa zaman sekarang. Realitas mahasiswa sekarang banyak menghabiskan masa studinya dengan hura-hura dan senang-senang. Narkoba, diskotik, pergaulan bebas, bahkan seks bebas pun seakan sudah menjadi kehidupan mereka. Tak heran jika di media/berita, TV dan koran,  kita menemukan mahasiswa terjaring razia sedang berduaan mesum di hotel, setelah ditengok ternyata mereka mempunyai kartu mahasiswa dari Universitas tertentu. Sadar atau tidak, tindakan mereka sudah mencemarkan nama baik almamater yang seharusnya dijaga dan dijunjung tinggi.

Sedangkan dalam pergerakan, seperti sifat air saja (ia tidak akan pernah mengalir ke tempat yang lebih tinggi). Intensitas dan kualitas gerakan kemahasiswaan semakin hari cenderung mengalami penurunan dan tidak terarah seiring datangnya era modernisasi. Gerakan mahasiswa seakan mengalami “kemandulan”, tak terarah dan tidak mampu mewarnai pelbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Coba kita perhatikan secara seksama, sering kali ketika mahasiswa turun ke jalan berdemonstrasi, ujung-ujungnya anarki, bentrok dengan aparat, bahkan merusak fasilitas umum secara membabi buta. Apa hasilnya? Tidak ada. Yang ada hanyalah kerugian Negara, luka-luka yang semestinya dihindari. Kini gelar mahasiswa sebagai kaum intelektual perlahan mulai terkikis dan bergeser menjadi kaum anarkis.

Untuk membangun citra mahasiswa kembali sebagai agen pembaharu ataupun kaum intelektual yang mana di pundaknya ada masa depan bangsa, seyogyanya mahasiswa harus: 1). Menjadi Tauladan, sesuai dengan gelar maha yang berarti besar atau agung, dan siswa adalah orang yang sedang menempuh proses belajar, jadi mahasiswa adalah tingkatan tertinggi dari siswa, seharusnya menjadi tauladan yang positif bagi siswa-siswa yang lain yang masih ada di bawahnya. 2). Mempunyai Hard Skill (Kemampuan Intelektual), sebagai kaum intelek (berilmu), mahasiswa seharusnya mengaplikasikan ilmu mereka dalam bentuk nyata, serta memiliki kapabilitas dalam menelurkan solusi dari sebuah masalah. 3). Berakhlak Mulia/beretika, sesuai dengan titah Nabi Muhammad SAW bahwa “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”, bersikap secara arif dan bijak. Sebagai mahasiswa seharusnya sudah dapat membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang harus dikerjkan dan mana yang harus ditinggalkan. 4). Mempunyai concepts, competencies, dan conections (prof. Gunawan Mintohardjo dalam bukunya Membangun Indonesia Emas). Kompetensi/soft skill meliputi; Manajemen waktu, Kepemimpinan (leadership), Tingkat kepercayaan yang tinggi (self confidence), Selera humor (sense of humor), Memiliki keyakinan dalam agama (spiritual capital).

Jika keempat hal tersebut disinkronisasikan menjadi satu kesatuan, maka mereka pantas menyandang gelar mahasiswa yang paripurna, bukan “sekedar mahasiswa” seperti kebanyakan mahasiswa sekarang alias mahasiswa “gadungan”; yang tahunya berpenampilan gaul dan gaya yang ditonjolkan tapi kemampuan nihil, hanya tahu  berorasi/berdemontrasi tapi hasilnya nol, hanya bisa berdiskusi dan pandai berdebat tapi aplikasi dalam realitas nonsense.

Amir Faqih al-Qodafi
Mahasiswa Fakultas Syariah Universitas al-Ahgaff Tarim Hadhromaut Yaman.
Aktivis PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) Yaman.
(//rhs)

About OSIS SMA Negeri 1 Kebumen

blog OSIS SMA Negeri 1 Kebumen

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

contact us

Jalan Mayjen Sutoyo 7 Kebumen 54316, Jawa Tengah, Indonesia.

e-mail : osis_sman1kebumen@yahoo.com
qr code
%d bloggers like this: